free hit counter

Sifat Tamak Dan Ekonomi Islam

Oleh: Prof. DR. H Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang

Rabu, 26/06/2013

Berbicara tentang ekonomi Islam  adalah sangat tidak relevan manakala masih memberi peluang bagi orang-orang tamak. Sebab salah satu misi Islam adalah membangun kebersamaan, memperhatikan antara sesame dan juga tolong menolong. Ekonomi Islam menjadikan bagi siapapun dalam upaya memenuhi kebutuhannya tidak merugikan orang lain. Demikian sebaliknya, orang tamak selalu mementingkan diri sendiri, sekalipun orang lain menderita oleh karena ketamakannya. 

Ekonomi Islam berbeda secara paradigmatic dengan ekonomi lainnya. Ekonomi Islam memandang bahwa sebenarnya kebutuhan manusia itu adalah terbatas, sedangkan sumber-sumber ekonomi adalah tidak terbatas. Pandangan ini berbalik dengan paradigm ekonomi pada umumnya. Sementara ini paradigm ekonomi pada umumnya  mengatakan  bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, sedangkan ketersediaan pemenuhan kebutuhan   selalu terbatas.

Mempercayai pandangan ekonomi pada umumnya menjadikan orang kapan saja dan di mana saja selalu berebut harta, khawatir  tidak berhasil memenuhi kebutuhannya sendiri. Kebutuhan dimaksud biasanya tidak terbatas jumlahnya. Padahal harta yang dikumpulkan dengan jumlah yang tidak terbatas itu  belum tentu dimanfaatkan bagi hidupnya. Kita melihat fenomena misalnya, terdapat orang berhasil mengumpulkan triliyunan dolar, sementara dalam jumlah sekian banyak orang tidak memiliki kekayaan dan bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. 

Berbeda dengan hal tersebut adalah paradigm ekonomi Islam yang dianut, maka seseorang tidak akan menumpuk harta sebanyak-banyaknya, oleh karena diyakini bahwa kebutuhannya terbatas, sedangkan ketersediaan bahan untuk mencukupi itu selalu tidak terbatas. Orang akan berpikir untuk apa menngejar dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, sebab tanpa menyimpan dan mengumpulkannya, hingga berakibat kebutuhan sesamanya terganggu, tidak akan mengalami kekurangan.

Selama ini,  di antara sebab-sebab yang menjadikan munculnya persoalan  ekonomi hingga melahirkankemiskinan adalah terdapatnya orang-orang yang bersifat rakus dan tamak. Hal itu dengan mudah kita lihat gambarannya  di kota-kota besar, seperti Jakarta dan lainnya. Kita akan segera menyaksikan bentuk bangunan rumah yang tidak seimbang.Next

BERITA TERKAIT