free hit counter

Akibat Ketidaksinkronan Moneter dan Fiskal

SUKU BUNGA KREDIT SULIT TURUN

Kamis, 13/10/2011

Jakarta – Ketidaksinkronan antara kebijakan pelonggaran moneter dan otoritas fiskal membuat kalangan perbankan masih sulit menurunkan tingkat suku bunga kredit di tengah kecenderungan penurunan bunga BI Rate belakangan ini. Sementara kalangan pengusaha terus mendesak perbankan agar menurunkan suku bunga pinjaman hingga level 10%-12% per tahun.

NERACA

”Ketidaksinkronan kebijakan moneter dan fiskal  juga terlihat dari bunga kredit yang tetap tinggi meski Bank Indonesia (BI) menurunkan bunga acuan. Karena bunga deposito adalah elemen penting dalam naik turunnya suku bunga kredit,” ujar ekonom LIPI Dr. Latief Adam kepada Neraca di Jakarta, Rabu (12/10).

Menurut dia, bunga kredit sulit diturunkan karena adanya empat faktor yang terkait kebijakan moneter dan fiskal. Empat komponen suku bunga adalah bunga deposito yang sangat dipengaruhi BI Rate, biaya operasional, besaran keuntungan, dan premi risiko. Untuk soal premi risiko, ini terkait dengan inflasi yang bukan semata pengaruh moneter tapi juga fiskal.

Akibat ketidaksinkronan sisi moneter dan sisi fiskal membuat kredibilitas kebijakan BI tidak optimal. Ketika BI melonggarkan moneter dengan menurunkan BI Rate, suku bunga masih tetap tinggi. Di titik inilah, kepastian investasi menjadi bermasalah. Investor yang akan masuk menanam modal menjadi bingung tentang tingginya bunga kredit perbankan. Ketidakpastian investasi ini terasa di sektor keuangan semakin terlihat karena kebijakan yang tidak sinkron, satu ke arah ke kiri dan satu lagi ke kanan, ujar Latief.Next

BERITA TERKAIT